Slot Dana 5000 — Anggota Komisi VII DPR RI, Mujakkir Zuhri, mendorong Kementerian Pariwisata untuk melakukan akselerasi pergeseran paradigma di sektor pariwisata pada tahun 2026. Fokus pembangunan tidak lagi sekadar mengejar angka kunjungan wisatawan, tetapi harus beralih ke peningkatan kualitas pengalaman, nilai ekonomi yang berkeadilan, prinsip keberlanjutan, serta manfaat sosial yang lebih luas bagi masyarakat.
Keselamatan dan Kenyamanan sebagai Fondasi
Mujakkir menekankan bahwa sektor pariwisata ke depan harus menargetkan zero accidents dan meninggalkan kesan yang mendalam. Oleh karena itu, faktor keselamatan dan kenyamanan wisatawan menjadi fokus utama yang perlu dibenahi secara kolektif.
Ia mengingatkan pentingnya pembelajaran dari berbagai insiden, seperti kasus tenggelamnya wisatawan di Labuan Bajo yang juga merenggut nyawa pelatih tim Valencia, Fernando Martin Carreras. Peristiwa semacam itu harus menjadi bahan evaluasi bersama untuk menciptakan pariwisata yang lebih aman dan berkualitas di masa depan.
Dari Kuantitas Menuju Kualitas dan Nilai Ekonomi
Menurut pandangannya, keberhasilan pariwisata tidak boleh lagi diukur hanya dari jumlah kedatangan wisatawan. Aspek yang jauh lebih penting adalah bagaimana pengalaman tersebut dirasakan oleh setiap tamu, kesiapan masyarakat lokal dalam menyambut, serta bagaimana manfaat ekonomi dari pariwisata benar-benar dapat dirasakan dan mengalir kembali ke daerah tujuan wisata.
Menjawab Tren dengan Kreativitas dan Kolaborasi
Mujakkir menyoroti bahwa pola perjalanan wisata modern yang penuh tantangan sekaligus peluang harus dijawab dengan kreativitas dan kolaborasi strategis. Strategi yang tepat dalam menyambut tren utama pariwisata 2026—seperti wellness, ekowisata, gastronomi, budaya otentik, dan adopsi digital—akan secara alami mendongkrak jumlah kunjungan.
Tren ini dipandang sebagai pendorong peningkatan devisa negara, pemberdayaan komunitas lokal, dan peningkatan daya saing global Indonesia.
Pariwisata sebagai Investasi Jangka Panjang
Harapannya, sektor pariwisata perlu dilihat dengan perspektif baru. Tidak lagi sekadar sebagai industri hiburan semata, tetapi sebagai investasi jangka panjang bagi kesejahteraan masyarakat. Perubahan paradigma ini diyakini akan memperkuat optimisme bahwa pariwisata Indonesia akan tumbuh ke arah yang lebih jelas, lebih aman, dan lebih berkelanjutan untuk semua pihak.





